Banda Neira Angkat Kisah Pekerja Ibukota Lewat Video Klip “Mimpilah Seliar-liarnya”
“Mimpilah Seliar-liarnya” karya Banda Neira hadir sebagai refleksi kerasnya situasi pekerja kota dan tentang mimpi yang tetap perlu dijaga.
Video Klip sebagai Persembahan untuk Kelas Pekerja
Grup musik Banda Neira meluncurkan video klip terbarunya berjudul “Mimpilah Seliar-liarnya” pada 17 Desember 2025, sebagai bentuk penghormatan terhadap kelas pekerja di ibukota yang setiap hari menghadapi kerasnya kehidupan di kota besar. Karya ini hadir dalam rangka memperingati satu tahun perilisan album mereka, Tumbuh dan Menjadi, sekaligus sebagai wujud kebangkitan formasi baru Banda Neira.
Lirik yang Berdasarkan Kisah Nyata
Ananda Badudu, salah satu personel Banda Neira, menjelaskan bahwa lagu ini lahir dari pengalamannya sendiri, yang kemudian banyak bersesuaian dengan realitas hidup masyarakat urban. Ia mencermati bagaimana tubuh dan batin pekerja sering menyerah pada beban rutinitas sehari-hari akibat jarak tempuh yang jauh dan kondisi transportasi yang kurang mendukung. Ia menyebut momen pulang larut setelah aktivitas padat, di mana rasa lelah bukan sekadar fisik sesaat, melainkan akumulasi kelelahan yang menumpuk dalam jangka panjang.
Kritik terhadap Struktur Kota yang Tidak Manusiawi
Ananda juga menyampaikan kritik terhadap struktur kota yang acap kali mengabaikan kebutuhan manusia. Ia menilai elemen-elemen seperti transportasi publik yang buruk, jarak tempat tinggal ke lokasi kerja yang tidak praktis, dan tata kota yang kurang memperhatikan aspek kehidupan manusianya merupakan penyebab stres dan kelelahan psikologis di kalangan kelas pekerja. Lirik lagu “Mimpilah Seliar-liarnya” ditulis dengan pendekatan realistis, tanpa efek dramatisasi yang berlebihan, agar mampu mewakili pengalaman jutaan orang yang menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal padahal sebaliknya.
Harapan dan Ruang Pulang
Di tengah kegetiran yang digambarkan melalui video klip, Banda Neira juga meresapi makna harapan kecil sebagai penyeimbang. Mereka menegaskan bahwa meskipun keadaan sering tampak menekan, kehadiran orang-orang terdekat menjadi alasan kuat untuk terus bertahan. Konsep ruang pulang digambarkan sebagai metafora tempat di mana setiap individu dapat menemukan kekuatan dan saling menguatkan, agar tidak hancur dalam sirkus kehidupan perkotaan.
Mimpi sebagai Benteng Terakhir
Sasha, vokalis Banda Neira, menyerukan pentingnya menjaga mimpi, meski banyak faktor di luar kendali individu yang kerap menghalangi. Menurutnya, mimpi menjadi satu-satunya benteng yang tersisa ketika kenyataan sehari-hari tidak berpihak. Ia mengajak pendengar untuk tetap menghidupkan mimpi seliar-liarnya, sebagai ruang imajinasi yang menyelamatkan dari keputusasaan.