Iran Tegaskan Tidak Ingin Perang dengan Israel-AS, Tapi Siap Merespon Jika Diserang
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran menolak perang namun tetap waspada terhadap segala bentuk serangan.
Konteks Pernyataan
Pada 9 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk memulai konflik militer dengan Israel atau Amerika Serikat AS, namun menegaskan siap membalas jika diserang. Pernyataan ini diungkapkan saat kunjungannya ke Lebanon, seperti dilaporkan Associated Press.
Ancaman yang Diantisipasi
Araghchi menyebut bahwa Israel dan AS telah melancarkan beberapa serangan terhadap Iran—termasuk aksi militer terhadap situs nuklir—“yang gagal secara besar-besaran”. Iran memperingatkan bahwa jika serangan semacam itu terulang, mereka akan menghadapi akibat yang setara. “Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami siap untuk itu,” tegasnya.
Syarat untuk Negosiasi Program Nuklir
Iran menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan AS mengenai program nuklirnya, asalkan proses pembicaraan didasari rasa saling menghormati dan bukan melalui tekanan atau tuntutan sepihak. Negosiasi harus dilakukan dengan considering kepentingan kedua belah pihak agar bisa menghasilkan outcome yang konstruktif.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan meningkat setelah konflik berskala besar selama 12 hari pada Juni tahun sebelumnya, di mana Israel menewaskan sejumlah pejabat militer senior serta ilmuwan nuklir Iran, sekaligus AS menyerang fasilitas pengayaan nuklir negara tersebut.
Peningkatan Kapasitas Nuklir Iran
Sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 pada 2018, Iran telah meningkatkan pemurnian uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen. Meskipun Iran selalu mengklaim bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai, Badan Tenaga Nuklir Internasional IAEA dan negara-negara Barat menyatakan bahwa sampai 2003, negara tersebut memiliki infrastruktur yang dapat mendukung pengembangan senjata nuklir.
Sikap AS dan Implikasi Internasional
Pemerintahan AS di bawah Donald Trump kembali meluncurkan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran sejak Februari terakhir, termasuk berbagai serangan terhadap instalasi nuklir Teheran. AS juga memperingatkan akan aksi militer tambahan jika Iran dianggap melanjutkan upayanya membangun kembali program nuklirnya.
Kesimpulan
Meskipun Iran menyatakan keengganannya untuk terlibat dalam perang dengan Israel atau AS, negara tersebut memperjelas bahwa akan merespons agresi jika provokasi diulangi. Upaya diplomasi dibuka, namun dengan syarat utama yakni kesetaraan dan penghormatan terhadap kedaulatan serta kepentingan bersama.