Bisnis

Agus Martowardojo Soroti Penurunan Kepemilikan Asing atas SBN dari 41% ke 13%

Kepemilikan asing di SBN merosot drastis, dari puncak 2018 ke level terkini, menurut Agus Martowardojo.

Kepemilikan asing di SBN merosot drastis, dari puncak 2018 ke level terkini, menurut Agus Martowardojo.

Ringkasan Data Kepemilikan Asing dan Perubahan Neraca Pembayaran

Agus Martowardojo, mantan Gubernur Bank Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan, mengungkap bahwa persentase kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara SBN Indonesia telah mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2018, proporsi tersebut mencapai titik tertinggi sebesar 41%, namun pada saat ini hanya sekitar 13%. Perubahan ini dianggap sebagai indikasi penting yang harus mendapatkan perhatian serius oleh para pengambil kebijakan dan pihak terkait.

Analisis Agus: Elemen yang Tidak Boleh Diabaikan

Meskipun dominasi investor domestik dalam kepemilikan SBN dianggap meningkat, Agus Martowardojo menegaskan bahwa hal ini tidak boleh dilihat sebagai pertanda bahwa kondisi saat ini sepenuhnya stabil atau menguntungkan. Ia mengingatkan bahwa adaptasi yang cepat atas dinamika investasi asing juga perlu dicermati untuk memitigasi risiko yang mungkin muncul dari pergeseran modal internasional.

Dampak Terhadap Neraca Pembayaran: Dari Surplus ke Defisit

Data Bank Indonesia mencatat bahwa pada 2024, neraca pembayaran Indonesia masih mencatat surplus sekitar US$ 17 miliar. Namun, dalam kurun sembilan bulan pertama 2025, neraca tersebut berbalik menjadi defisit sekitar US$ 12 miliar. Agus menyebut bahwa berkurangnya kepemilikan asing dalam portfolio investasi—baik di SBN maupun saham—sebagai salah satu penyebab utama defisit tersebut.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Penurunan drastis saham investor asing dalam SBN dari 41% di 2018 menjadi 13% sekarang menandakan perubahan struktural dalam investasi surat berharga Indonesia. Bagi pembuat kebijakan, perubahan ini menuntut ketersediaan strategi untuk menarik kembali investor asing serta menjaga stabilitas keuangan dan ekspektasi pasar ke depan. Langkah-langkah yang mungkin termasuk peningkatan insentif fiskal, transparansi penerbitan SBN, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk membangun kembali kepercayaan investor global.