Napak Tilas Jejak Rasulullah di Madinah: Dari Masjid Quba hingga Jabal Uhud
Melintasi situs-situs bersejarah di Madinah yang mengingatkan pada perjalanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Kunjungan ke Masjid Quba dan Kompleks Sirah
Rombongan Liputan6.com pada Rabu pagi, 12 November 2025, memulai perjalanan nuansa rohani dari hotel Movenpick Anwar Al-Madinah menuju Masjid Quba, yang merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan berjarak sekitar empat kilometer. Perjalanan singkat sekitar 20 menit mengantarkan mereka dari pusat kota ke kawasan yang lebih sederhana, dipenuhi rumah penduduk dan sekolah—sebuah pemandangan yang mempertahankan kedekatan antara kota suci dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Di Masjid Quba dan Museum Sirah The Journey to Quba, peserta diajak menyusuri kisah historis, termasuk sambutan penduduk Ansar, dan merasakan atmosfir spiritual melalui pengalaman imersif yang mempresentasikan dengan detail kedatangan Rasulullah SAW di tempat tersebut.
Ethiq Well dan Kebun Kurma Bustan Al Mustadal
Dalam kompleks tersebut, terdapat sumur lama bernama Ethiq Well, yang menurut tradisi pernah diminum oleh Nabi Muhammad SAW ketika tiba di Madinah. Meski struktur aslinya dipertahankan, pengelolaan airnya telah disesuaikan: air dialirkan ke dalam wadah khusus dan pengunjung disediakan gelas plastik untuk mengambil dan meminum air bersejarah tersebut secara langsung. Di area kebun kurma Bustan Al Mustadal, lebih dari 150 pohon kurma dari berbagai jenis tumbuh dengan rapi. Pengunjung yang datang di musim panen—biasanya antara Juni dan September—dapat menikmati kurma segar langsung dari pohonnya.
Jabal Uhud: Pusara 70 Sahabat Nabi
Perjalanan berlanjut ke Jabal Uhud, sebuah gunung di utara Madinah dengan ketinggian mencapai 1.077 meter. Tempat ini dikenal sebagai medan Perang Uhud, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, di mana sekitar 70 sahabat Nabi gugur sebagai syuhada. Di antara mereka adalah Hamza ibn Abdulmuttalib, paman Nabi yang juga dikenal sebagai Pemimpin Para Syuhada. Berkunjung ke kaki gunung memberikan kesempatan untuk merenung dan berdoa bagi yang gugur di medan tersebut.
Merasakan Damainya Kota Nabawi
Setibanya waktu zuhur, rombongan kembali ke hotel dan mendapatkan kesempatan menyaksikan kesejukan kota Madinah melalui masjid-masjidnya, terutama Masjid Nabawi. Aura ketenangan tampak kuat saat lantai masjid berdebu dingin menggigil di pagi hari, dan kubah hijau Raudhah selalu tampak memberi sambutan dari kejauhan. Dua malam di Madinah menjadi waktu yang cukup untuk menyelami atmosfer rohani, menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang menakjubkan, juga menyaksikan kehidupan spiritual serta kesejahteraan batin yang membuat kota ini begitu istimewa bagi setiap peziarah.