Hiburan

Nicholas Saputra Ungkap Keresahan Terdalamnya atas Bencana di Sumatra

Dalam sebuah podcast bersama jurnalis senior Uni Lubis, Nicholas Saputra berbicara terbuka tentang duka, tanggung jawab lingkungan, dan nasib masyarakat di sekitar hutan Sumatra.

Dalam sebuah podcast bersama jurnalis senior Uni Lubis, Nicholas Saputra berbicara terbuka tentang duka, tanggung jawab lingkungan, dan nasib masyarakat di sekitar hutan Sumatra.

Aktor Nicholas Saputra Bereaksi atas Bencana di Sumatra

Pada Senin, 15 Desember 2025, aktor Nicholas Saputra mengungkap keresahan mendalamnya terkait bencana alam yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh—termasuk banjir bandang dan tanah longsor—melalui sebuah podcast bersama jurnalis senior Uni Lubis.

Bencana sebagai Peringatan Keras terhadap Kerusakan Lingkungan

Menurut Nicholas, bencana-bencana yang terjadi bukanlah semata-mata akibat kejadian alam biasa. Ia menyebutnya sebagai "wake-up call" atau peringatan keras agar manusia, terutama para pembuat kebijakan, kembali memerhatikan dan memperbaiki hubungan antara manusia dan lingkungan.

Semua Orang Memiliki Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

Saputra menekankan bahwa pelestarian lingkungan bukanlah tanggung jawab tunggal aktivis atau masyarakat yang bergerak khusus di bidang konservasi. Menurutnya, menjaga alam adalah kewajiban kolektif—setiap individu harus mempertimbangkan konsekuensi terhadap alam dalam setiap keputusan, sekecil apapun itu.

Momen Emosional dan Keluhan atas Keberpihakan

Dalam sesi podcast tersebut, Saputra tidak mampu menahan emosi ketika berbicara tentang masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Ia menyuarakan bahwa mereka yang sering diandalkan untuk menjaga lingkungan justru menjadi kelompok paling terdampak ketika bencana terjadi—mereka menerima kerusakan lebih dahulu, namun bantuan hadir paling terakhir.

Sikap Publik dan Kritik terhadap Ketidakcukupan Respons

Sebelum pernyataan terbuka ini, Saputra sempat mendapatkan kritik dari warganet karena dianggap kurang vokal terhadap bencana di Sumatra, terutama mengingat ia memiliki eco-resort di wilayah tersebut. Meskipun demikian, ia telah secara konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengkritik praktik pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan.