Aurelie Moeremans: Kisahku Hanya Satu dari Jutaan Kasus Child Grooming, Bukan Untuk Sensasi
Aurelie Moeremans menyuarakan pentingnya kesadaran publik tentang child grooming setelah pengakuannya viral.
Pengakuan dan Viralitas
Aurelie Moeremans mengungkapkan bahwa pengalamannya menjadi korban child grooming, yang ia ceritakan dalam bukunya Broken Strings, bukanlah usaha mencari sensasi, melainkan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Kisahnya menjadi viral di media sosial setelah bukunya dibicarakan luas dan menarik perhatian aparat publik termasuk anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka.
Pentingnya Pemahaman yang Mendalam
Lewat unggahan di Instagram Stories yang dipublikasikan pada 18 Januari 2026, Aurelie menekankan pentingnya pemahaman terhadap apa itu child grooming dan bagaimana cara meresponsnya. Ia mendorong orang tua untuk mengenali ciri-cirinya sedini mungkin agar anak-anak dapat terlindungi.
Kesadaran dan Suara untuk Mereka yang Terluka
Aurelie menceritakan bahwa banyak korban serupa yang kurang paham bahwa apa yang mereka alami termasuk dalam kategori child grooming. Ia menyatakan bahwa cerita pribadinya hanyalah satu dari jutaan kasus—banyak di antaranya tak terlihat atau tidak dipercaya. Dengan bersuara, ia berharap paling tidak satu anak tidak perlu mengalami trauma seperti yang pernah ia lalui.
Tujuan Sosial dan Harapan Ke Depan
Dalam Broken Strings, Aurelie bertujuan lebih dari sekadar membagikan kisah pribadi. Ia ingin mendorong edukasi kepada publik—terutama orang tua dan anak muda—agar child grooming tidak lagi menjadi tindakan yang dianggap tabu atau disalahpahami. Dukungan terhadap para korban agar tidak merasa sendirian menjadi prioritas.