Wapres Gibran Tanggapi Kritik Pandji: Insan Kreatif dan Kemajuan Industri Film
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merespons kritik dari Pandji Pragiwaksono dengan menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap insan kreatif dan pemanfaatan teknologi dalam industri film.
Tanggapan Gibran terhadap Kritikan Pandji
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menanggapi santai kritik dari komika Pandji Pragiwaksono yang dilontarkan melalui acaranya “Mens Rea”. Respon tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram Gibran pada Jumat, 9 Januari 2026, yang hanya berisi kata “Halus-halus” sebagai bentuk menyikapi kritikan tersebut.
Kunjungan ke XR Studio dan Kaitan dengan Kritik
Pada kesempatan yang sama, Gibran mengunggah kegiatan kunjungan kerja ke Doss Guava XR Studio, sebuah fasilitas produksi film yang memanfaatkan teknologi extended reality. Ia menyebut ruang tersebut sebagai sesuatu yang sangat membanggakan. Unggahan tersebut juga memuat pesan filosofi bahwa pemerintah perlu memberikan dukungan konkret kepada generasi muda dan insan kreatif melalui teknologi mutakhir agar mereka dapat berkembang secara optimal.
Pandangan Gibran tentang Kritik, Inovasi, dan Demokrasi
Wapres Gibran memandang kritik dari kalangan kreator sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika demokrasi dan inovasi. Menurutnya, kritik yang baik memicu evaluasi terhadap kebijakan pemerintahan. Ia menrokan bahwa sektor perfilman adalah contoh industri strategis karena mampu menyerap bakat muda sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia.
Harapan akan Pertumbuhan Profil Film Nasional
Dalam pandangan Gibran, dengan dukungan negara, pemanfaatan teknologi canggih, dan kolaborasi lintas sektor, industri film Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh secara berkelanjutan dan bersaing di panggung global. Pernyataan ini juga dipertegas dengan keyakinannya bahwa insan kreatif adalah kekuatan penting dalam pembangunan budaya nasional ke depan.
Intisari dari Respons yang Disampaikan
Berdasarkan pernyataan dan tindakan terkini, dapat disimpulkan bahwa pemerintah, melalui sosok Wakil Presiden, memilih jalur dialog produktif melalui aksi nyata. Respons bukan berupa silang pendapat verbal semata, melainkan menampilkan bukti dukungan terhadap inovasi kreatif dan modernisasi industri film. Kritik dianggap sebagai momentum untuk memperkuat kebijakan kreatif dan teknologi dalam struktur pemerintahan.